'/> Kaedah Atau Kaidah, Faedah Apa Faidah? Penulisan Kata Baku Yang Tepat -->

Info Populer 2022

Kaedah Atau Kaidah, Faedah Apa Faidah? Penulisan Kata Baku Yang Tepat

Kaedah Atau Kaidah, Faedah Apa Faidah? Penulisan Kata Baku Yang Tepat
Kaedah Atau Kaidah, Faedah Apa Faidah? Penulisan Kata Baku Yang Tepat
Penulisan Kata Baku dan Tidak Baku yakni menjadi hal penting bagi pelajar. Materi penulisan kata baku dan tidak baku ini selalu muncul dan terintegrasi dengan tiruana bahan pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Karena intinya setiap tulisan, harus ditulis sesuai dengan kaidah penulisan kata baku, dalam ragam apapun. Apalagi berkaitan dengan penggunaan kata dan abjad yang tepat.


Salah satu alasan munculnya kesalahan penulisan kata baku yakni ketidakpahaman pemakai bahasa Indonesia akan penggunaan huruf. Kudang kecepengungan antara suara /i/ dan /e/ dengan abjad i dan abjad e. Misalnya yang sering ditemukan dalam kata praktik, apotek, antre, risiko. Kata-kata tersebut sering ditulis salah praktek* apotik* antri* dan resiko* penulisan ini tidak baku.

Hal ini sebab memang kata praktik dalam pelafalan di masyarakat menjadi /praktek/. Begitu seterusnya. Hal itu pula yang terjadi dengan kata kaidah dan faedah. Kedua kata tersebut sudah sama-sama diakui sebagai pecahan dari bahasa Indonesia.

Jika dilihat dari asal-usul katanya, tentu kedua kata tersebut merupakan serapan dari bahasa Arab. Kaidah berasal dari bahasa Arab qaaidatan (qaaidah) yang artinya 'kepercayaan'. Dalam penggunaan kata qaidah ini berkaitan juga dilakukan oleh kelompok (yang disebut) teroris pimpinan Osama bin Laden alqaeda kata ini berawal dari akar kata yang sama. Sementara kata faedah berasal dari kata faaidatan (فائدة) yang bersinonim dengan 'bunga' yang berarti keuntungan atau dalam bahasa Inggris disebut benefit.

Dari bentuk yang mirip, dan dari bahasa asal yang sama yaitu bahasa Arab kok bisa terjadi perbedaan antara bentuk baku kaidah yang memakai abjad i dan faedah yang harus memakai abjad e. Sementara dalam bahasa asalnya, sama-sama berasal dari abjad hamzah yang beraharakat kasrah.

Hal ini bisa dijelaskan dengan alasan memberikankut:

Mungkin kata kaidah dan faedah sama-sama berasal dari bahasa Arab, tapi proses penyerapannya yang berbeda. Jika kaidah diserap eksklusif dari bahasa Arab, sementara faedah sudah melalui proses pengenalan dari bahasa daerah, seolah-olah berasal dari bahasa daerah, kemudian dari bahasa kawasan tersebut diserap ke dalam bahasa Indonesia. Maka, jadilah yang baku yakni faedah.

Itu kalau dibahas secara nalar, meskipun kalau ditanyakan ludang kecepeh dalam, kalau memang diserap ke dalam bahasa kawasan terludang kecepeh dulu, mengapa faedah bukan paedah bukankah bahasa kawasan nusantara tidak mempunyai suara /f/ atau /v/. Seperti halnya nafas yang berasal dari bahasa Arab juga tapi menjadi napas dalam bentuk bakunya dalam Bahasa Indonesia.

Intinya, proses pembentukan istilah dalam Bahasa Indonesia melalui proses yang panjang dan tidak dari satu jalur, maka yang perlu kita ketahui kini yakni bentuk baku yang sesuai dalam sumber tumpuan terpercaya, dalam hal ini adala Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa, forum resmi pemerintah yang ada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang bisa diakses melalui aplikasi luring dan yang daring.

Dalam KBBI V daring, disebutkan bahwa faedah memiliki arti 1) guna; manfaat; 2) sesuatu yang menguntungkan; untung; laba. bentuk tidak bakunya yakni paedah, faidah. Sementara kata kaidah memiliki satu klarifikasi arti yaitu rumusan asas yang menjadi hukum; aturan yang sudah pasti; patok; pendapat dalam ilmu matematika. Bentuk tidak bakunya yakni kaedah.

Jangan gundah lagi ya, antara kata kaidah dan faedah dengan bentuk tidak bakunya kaedah dan faidah.
Advertisement

Iklan Sidebar